#Singapura (25 Nov 2009)

Pukul 7 pagi, aku sudah bangun. Kulihat aktivitas dari luar jendela kamar hotel sudah mulai padat. Beberapa kedai makanan sudah mulai buka. Aku sebenarnya masih malas-malasan untuk bangun jam segini, tapi karena aku janji harus berangkat ke Singapura pagi hari, mau tidak mau aku harus berbenah dan bersiap pergi.

Setelah mandi, aku keluar kamar menggunakan jeans gantung selutut dan t-shirt. Aku keluar hotel mencari kedai terdekat untuk sarapan pagi. Soto ayam dan teh O (alias teh hangat) kupesan dan kuhabiskan segera. Tak lama, telpon genggamgu berbunyi. Nomornya aku tahu kode Singapura, kupikir pasti aku sudah dicari-cari dan disuruh segera berangkat. Ternyata yang telpon adalah teman dekat aku, yang bekerja sebagai salah seorang koordinator di kantorku.

“Kapan kamu berangkat ke Singapore?” tanya suara perempuan dari seberang sana dengan logat melayu kental.

“Ya, sebentar lagi aku siap berangkat. Barusan selesai sarapan pagi,” jelasku.

“Boleh titip belikan kue Ambon, gak? Di Singapura susah cari kue Ambon itu la. Aku suka sekali kue itu,” pintanya kepadaku.

“Aku tidak tahu bisa cari dimana, tapi aku coba jalan-jalan dulu dekat sini ya, siapa tahu ada penjual jajanan yang juang bingka Ambon itu. Kalau dapat nanti pasti aku bawakan.”

“Tapi kalau memang tak bisa dapat, tak mengapa; lain kali saja ya?! Yang penting kamu segera ke office,” pesannya mengingatkan.

“Ya, aku cari dulu deh. Nanti aku telpon kamu ya, kalau sudah sampai.”

“Okay, take care ya!”

Telpon ditutup. Aku segera saja pergi ke pasar yang masih berada di kawasan Nagoya. Tapi tidak juga kutemukan penjual bingka Ambon. Akhirnya, aku bergegas kembali ke hotel dan segera berangkat lewat Harbour Bay.

Saat ferry mendekati Harbour Front, aku merasa ragu-ragu. Karena di dalam tasku ada sebungkus rokok yang memang sudah terbuka namun masih penuh, sedangkan di dalam jaketku ada 6 batang yang masih tersisa. Kata temanku, masuk Singapura dilarang membawa rokok lebih dari sebungkus, kecuali yang sudah terbuka dan sudah dihisap beberapa batang. Sebelum-sebelumnya sih, aku biasa bawa 2 bungkus dan memang sudah aku buka. Entah kupikir apa ada peraturan baru yang diberlakukan atau memang dulu-dulu aku selalu mujur membawa 2 atau 3 bungkus rokok masuk ke Singapura. Yang penting niatku membawa rokok tersebut hanya untuk konsumsi pribadi dan bukan untuk diperjual-belikan alias penyelundupan.

Passport-ku sudah dicap oleh petugas imigrasi dan keraguanku makin memuncak saat harus melewati area x-ray. Sempat aku berdiri beberapa menit di depan Duty Free Shop dan lantas aku membaca beberapa famlet larangan untuk membawa rokok masuk ke Singapura. “Fine S$2000″, “Fine S$200″, “Or Jail!”. Wow, besar juga denda yang diberikan pemerintah di negeri ini soal membawa rokok masuk, merokok di tempat yang dilarang dan sebagainya.

Kulihat sebuah bel dan tulisan yang menjelaskan soal benda larangan yang akan dibawa masuk ke Singapura. Aku pencet saja bel itu dan seorang petugas langsung mengarahkan pandangannya kepadaku, “bawa rokok ya?” Aku hanya mengangguk. Dia menunjuk kepada seorang lelaki keturunan India, berjenggot panjang, memakai serban ala film-film India yang kulihat di televisi. Aku pun langsung mendatangi lelaki separuh baya itu dan memperlihatkan 2 bungkus rokok yang kubawa.

“Oke, sila pergi kesana,” lelaki tua itu menunjuk sebuah loket kecil untuk pembayaran pajak.

Seorang perempuan India duduk agak rendah dari jendela loket pembarayan pajak yang kudatangi.

How many packages you bring?” perempuan itu bertanya dengan aksen Singapura (campuran antara aksen Melayu, China, dan India)

“I bring 2 packages. This one is only a half,” aku menunjukkan sebungkus rokok yang tersisa 6 batang di dalamnya dan sebungkus yang lain yang masih penuh.

“You can take this one and the other you have to pay tax or throw it to trash bin. The tax is S$12.8..”

Sebentar aku berpikir-pikir, jika kubuang sebungkus penuh ini, aku harus beli lagi Sampoerna Mild yang berbeda rasanya dengan harga S$11.20 di Singapura ini, hmmm… susah memang bagi perokok di negeri ini.

“Okay, I pay the tax,” aku keluarkan selembar S$50 dan kuserahkan pada perempuan India itu.

“But if you want to smoke your cigarette, don’t smoke outside or you will fine S$200 per stick!” Dia mengingatkan.

Aku menganggukkan kepala. Lega sudah membayar pajak untuk sebungkus rokok Indonesia. Aku berputar kembali ke area x-ray dan buru-buru keluar mall yang luas mencari taksi yang kosong.

Sempat beberapa jam aku di kantor. Pengurusan klaim biaya pembayaran fiskal, ongkos ferry dan taksi, dan lain-lain. Uang klaim sudah kuterima, tiket ke Hat Yai juga sudah di tangan. Berkali-kali kudengar kata “you are lucky, you are lucky!” dari mulut perempuan yang berposisi mengatur seluruh persoalan krew (semacam HRD) kepada beberapa orang di kantor. Aku tersenyum saja dan berkata dalam hati, “aku memang selalu untung dan orang beruntung tuh.”

Selesai briefing oleh dua orang manager, aku pun mohon pamit kepada orang-orang kantor untuk segera ke hotel dan beristirahat. Aku keluar kantor dan taksi yang dipesankan untukku sudah sampai.

“So, where do you want to go?” tanya supir tua Comfort Taxi itu.

“Geylang Lorong 20, Ruby Fragrance Hotel,”

Taksi pun meluncur ke alamat tujuan yang kusebutkan.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.