#Singapore (25 Nov 2009) – Malam

Sore hari, aku telpon teman laki-laki yang pernah ketemu di Singapura sebulan lalu. Aku kenal dia lewat facebook dalam permainan Zynga Poker. Dia tinggal di daerah Tampines, aku kurang tahu tepatnya daerah mana di alamat tersebut. Waktu itu dia jemput aku di daerah Bugis, ketika aku sedang mencari-cari toko alat pancing.

“Nanti kita ketemu, mungkin agak malam sikit. Saya ada urusan, mau ketemu kawan,” begitu jelasnya di telpon.

“Oke, tak apa. Nanti aku tunggu, ya? Misscall saja nanti kalau sudah sampai,” pesanku kepadanya.

Telpon pun kemudian aku tutup.

Sekitar jam 10.30 malam, temanku telpon dan bilang kalau dia sudah menunggu di bawah. Aku pun segera bergegas menemuinya. Dengan memakai celana jeans gantung dan kaos t-shirt, aku keluar kamar dan menuju pelataran. Sebuah sedan silver metallic sudah menunggu di depan.

“Belum tidur, kan?” tanya temanku itu membuka pembicaraan.

“Belum. Kita duduk-duduk di kedai dekat sini saja, ya?”

“Aku tak biasa duduk di kedai sini. Lu masuk saja ke mobil, kita pergi ke tempat biasa aku duduk-duduk,” pintanya.

Mobil pun melaju ke arah suatu tempat, aku belum tau kemana dia mengajakku.

“Kita pergi ke daerah Changi Village, ada kedai dan tempat pemancingan disana. Aku biasa pergi kesana. Tempatnya relaks.”

Aku hanya mengangguk. Setiap aku berada dalam perjalanan, yang kuperhatikan hanyalah mobil, gedung-gedung bertingkat, kerlap-kerlip lampu kota yang begitu indah. Selalu saja terpikirkan olehku setiap melihat keindahan kota seperti ini, seandainya negaraku Indonesia juga memiliki keindahan yang sama atau paling tidak mendekati dengan negara tempat aku transit sekarang ini. Segalanya tertib, aman dan teratur dengan baik. Pembangunannya sangat pesat. Tata kota yang bagus juga serta rakyatnya yang disiplin. Memang sih, ada beberapa yang sering melanggar peraturan, tapi dengan membandingkan banyaknya keteraturan dibanding ketidakteraturan, toh paling tidak sudah bisa menyenangkan hati.

Mobil memasuki area parkir. Kami pun keluar dan langsung menuju sebuah kedai yang buka 24 jam tepat di samping kolam besar pemancingan ini. Temanku hanya memesan segelas kopi, sedangkan aku memesan dua kaleng Heinekken beserta segelas es batu. Kami mencari tempat duduk yang di pojok kedai.

Ada beberapa pemancing di pinggir kolam, di meja lain ada empat perempuan china yang sedang asyik mengobrol dengan campuran bahasa Inggris dan Mandarin. Suasana di tempat ini memang sangat tenang. Area pemancingan air laut ini ditata sedemikian baik, sehingga orang-orang yang datang merasa nyaman meski untuk sekedar nongkrong atau berniat untuk memancing.

Cerita pun berputar-putar antara kami. Mulanya dia bertanya, kamu suka menulis apa, karya-karya siapa yang aku suka, dan lain sebagainya. Sampai dia sempat berpesan, nanti kalau aku kembali ke Indonesia dan ke Singapura lagi, dia minta tolong dibawakan buku-buku karya Jalaluddin Rumi dan beberapa penyair Persia lainnya. Dia bilang, dia lebih suka membaca buku-buku berbahasa Melayu ketimbang bahasa Inggris. Aku pun mengiyakan.

Waktu terus bergerak, dan ceritapun semakin seru. Yang akhirnya obrolan kami malah bertema seputar ilmu tasawuf. Aku sempat menahan hati untuk bercerita soal ilmu agama kepada temanku ini, karena seringkali aku melirik kepada kaleng bir di atas mejaku. Tapi dia tak permasalahkan soal itu. Memang, aku minum bir bukan untuk mencari mabuk, biasanya aku minum dua sampai tiga botol untuk mencari kantuk dan kemudian pulang tidur. Aku tidak pernah mau cari masalah di luar, apalagi di negara orang. Tidak menceracau dan mengganggu orang lain. Karena di Singapura, jika kita membuat onar kemudian tertangkap, bisa jadi kita ditahan dalam kurungan penjara untuk beberapa hari, bahkan yang lebih parah jika kita tidak diizinkan untuk masuk apalagi tinggal di Singapura. Bisa berabe kalau terjadi semacam itu. Apalagi aku bekerja di perusahaan yang dimiliki oleh orang Singapura dan berlokasi di negara ini. Wah, jangan sampai terjadi deh…

Cerita pun kami akhiri sekitar pukul dua lewat. Obrolan seru berhenti untuk sementara waktu, mungkin lain kali akan kami sambung lagi. Aku pun besok sudah harus berangkat ke Thailand.

Mobil meluncur ke arah hotel tempat aku menginap.

Setelah sampai di depan hotel, temanku langsung pamit pulang.

Malam semakin larut. Mataku pun sudah mengantuk. Sempat aku merindukan seseorang. Seorang perempuan yang mencuri perhatianku. Argh, aku jadi rindu….

#Singapura (25 Nov 2009)

Pukul 7 pagi, aku sudah bangun. Kulihat aktivitas dari luar jendela kamar hotel sudah mulai padat. Beberapa kedai makanan sudah mulai buka. Aku sebenarnya masih malas-malasan untuk bangun jam segini, tapi karena aku janji harus berangkat ke Singapura pagi hari, mau tidak mau aku harus berbenah dan bersiap pergi.

Setelah mandi, aku keluar kamar menggunakan jeans gantung selutut dan t-shirt. Aku keluar hotel mencari kedai terdekat untuk sarapan pagi. Soto ayam dan teh O (alias teh hangat) kupesan dan kuhabiskan segera. Tak lama, telpon genggamgu berbunyi. Nomornya aku tahu kode Singapura, kupikir pasti aku sudah dicari-cari dan disuruh segera berangkat. Ternyata yang telpon adalah teman dekat aku, yang bekerja sebagai salah seorang koordinator di kantorku.

“Kapan kamu berangkat ke Singapore?” tanya suara perempuan dari seberang sana dengan logat melayu kental.

“Ya, sebentar lagi aku siap berangkat. Barusan selesai sarapan pagi,” jelasku.

“Boleh titip belikan kue Ambon, gak? Di Singapura susah cari kue Ambon itu la. Aku suka sekali kue itu,” pintanya kepadaku.

“Aku tidak tahu bisa cari dimana, tapi aku coba jalan-jalan dulu dekat sini ya, siapa tahu ada penjual jajanan yang juang bingka Ambon itu. Kalau dapat nanti pasti aku bawakan.”

“Tapi kalau memang tak bisa dapat, tak mengapa; lain kali saja ya?! Yang penting kamu segera ke office,” pesannya mengingatkan.

“Ya, aku cari dulu deh. Nanti aku telpon kamu ya, kalau sudah sampai.”

“Okay, take care ya!”

Telpon ditutup. Aku segera saja pergi ke pasar yang masih berada di kawasan Nagoya. Tapi tidak juga kutemukan penjual bingka Ambon. Akhirnya, aku bergegas kembali ke hotel dan segera berangkat lewat Harbour Bay.

Saat ferry mendekati Harbour Front, aku merasa ragu-ragu. Karena di dalam tasku ada sebungkus rokok yang memang sudah terbuka namun masih penuh, sedangkan di dalam jaketku ada 6 batang yang masih tersisa. Kata temanku, masuk Singapura dilarang membawa rokok lebih dari sebungkus, kecuali yang sudah terbuka dan sudah dihisap beberapa batang. Sebelum-sebelumnya sih, aku biasa bawa 2 bungkus dan memang sudah aku buka. Entah kupikir apa ada peraturan baru yang diberlakukan atau memang dulu-dulu aku selalu mujur membawa 2 atau 3 bungkus rokok masuk ke Singapura. Yang penting niatku membawa rokok tersebut hanya untuk konsumsi pribadi dan bukan untuk diperjual-belikan alias penyelundupan.

Passport-ku sudah dicap oleh petugas imigrasi dan keraguanku makin memuncak saat harus melewati area x-ray. Sempat aku berdiri beberapa menit di depan Duty Free Shop dan lantas aku membaca beberapa famlet larangan untuk membawa rokok masuk ke Singapura. “Fine S$2000″, “Fine S$200″, “Or Jail!”. Wow, besar juga denda yang diberikan pemerintah di negeri ini soal membawa rokok masuk, merokok di tempat yang dilarang dan sebagainya.

Kulihat sebuah bel dan tulisan yang menjelaskan soal benda larangan yang akan dibawa masuk ke Singapura. Aku pencet saja bel itu dan seorang petugas langsung mengarahkan pandangannya kepadaku, “bawa rokok ya?” Aku hanya mengangguk. Dia menunjuk kepada seorang lelaki keturunan India, berjenggot panjang, memakai serban ala film-film India yang kulihat di televisi. Aku pun langsung mendatangi lelaki separuh baya itu dan memperlihatkan 2 bungkus rokok yang kubawa.

“Oke, sila pergi kesana,” lelaki tua itu menunjuk sebuah loket kecil untuk pembayaran pajak.

Seorang perempuan India duduk agak rendah dari jendela loket pembarayan pajak yang kudatangi.

How many packages you bring?” perempuan itu bertanya dengan aksen Singapura (campuran antara aksen Melayu, China, dan India)

“I bring 2 packages. This one is only a half,” aku menunjukkan sebungkus rokok yang tersisa 6 batang di dalamnya dan sebungkus yang lain yang masih penuh.

“You can take this one and the other you have to pay tax or throw it to trash bin. The tax is S$12.8..”

Sebentar aku berpikir-pikir, jika kubuang sebungkus penuh ini, aku harus beli lagi Sampoerna Mild yang berbeda rasanya dengan harga S$11.20 di Singapura ini, hmmm… susah memang bagi perokok di negeri ini.

“Okay, I pay the tax,” aku keluarkan selembar S$50 dan kuserahkan pada perempuan India itu.

“But if you want to smoke your cigarette, don’t smoke outside or you will fine S$200 per stick!” Dia mengingatkan.

Aku menganggukkan kepala. Lega sudah membayar pajak untuk sebungkus rokok Indonesia. Aku berputar kembali ke area x-ray dan buru-buru keluar mall yang luas mencari taksi yang kosong.

Sempat beberapa jam aku di kantor. Pengurusan klaim biaya pembayaran fiskal, ongkos ferry dan taksi, dan lain-lain. Uang klaim sudah kuterima, tiket ke Hat Yai juga sudah di tangan. Berkali-kali kudengar kata “you are lucky, you are lucky!” dari mulut perempuan yang berposisi mengatur seluruh persoalan krew (semacam HRD) kepada beberapa orang di kantor. Aku tersenyum saja dan berkata dalam hati, “aku memang selalu untung dan orang beruntung tuh.”

Selesai briefing oleh dua orang manager, aku pun mohon pamit kepada orang-orang kantor untuk segera ke hotel dan beristirahat. Aku keluar kantor dan taksi yang dipesankan untukku sudah sampai.

“So, where do you want to go?” tanya supir tua Comfort Taxi itu.

“Geylang Lorong 20, Ruby Fragrance Hotel,”

Taksi pun meluncur ke alamat tujuan yang kusebutkan.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.