Sore hari, aku telpon teman laki-laki yang pernah ketemu di Singapura sebulan lalu. Aku kenal dia lewat facebook dalam permainan Zynga Poker. Dia tinggal di daerah Tampines, aku kurang tahu tepatnya daerah mana di alamat tersebut. Waktu itu dia jemput aku di daerah Bugis, ketika aku sedang mencari-cari toko alat pancing.
“Nanti kita ketemu, mungkin agak malam sikit. Saya ada urusan, mau ketemu kawan,” begitu jelasnya di telpon.
“Oke, tak apa. Nanti aku tunggu, ya? Misscall saja nanti kalau sudah sampai,” pesanku kepadanya.
Telpon pun kemudian aku tutup.
Sekitar jam 10.30 malam, temanku telpon dan bilang kalau dia sudah menunggu di bawah. Aku pun segera bergegas menemuinya. Dengan memakai celana jeans gantung dan kaos t-shirt, aku keluar kamar dan menuju pelataran. Sebuah sedan silver metallic sudah menunggu di depan.
“Belum tidur, kan?” tanya temanku itu membuka pembicaraan.
“Belum. Kita duduk-duduk di kedai dekat sini saja, ya?”
“Aku tak biasa duduk di kedai sini. Lu masuk saja ke mobil, kita pergi ke tempat biasa aku duduk-duduk,” pintanya.
Mobil pun melaju ke arah suatu tempat, aku belum tau kemana dia mengajakku.
“Kita pergi ke daerah Changi Village, ada kedai dan tempat pemancingan disana. Aku biasa pergi kesana. Tempatnya relaks.”
Aku hanya mengangguk. Setiap aku berada dalam perjalanan, yang kuperhatikan hanyalah mobil, gedung-gedung bertingkat, kerlap-kerlip lampu kota yang begitu indah. Selalu saja terpikirkan olehku setiap melihat keindahan kota seperti ini, seandainya negaraku Indonesia juga memiliki keindahan yang sama atau paling tidak mendekati dengan negara tempat aku transit sekarang ini. Segalanya tertib, aman dan teratur dengan baik. Pembangunannya sangat pesat. Tata kota yang bagus juga serta rakyatnya yang disiplin. Memang sih, ada beberapa yang sering melanggar peraturan, tapi dengan membandingkan banyaknya keteraturan dibanding ketidakteraturan, toh paling tidak sudah bisa menyenangkan hati.
Mobil memasuki area parkir. Kami pun keluar dan langsung menuju sebuah kedai yang buka 24 jam tepat di samping kolam besar pemancingan ini. Temanku hanya memesan segelas kopi, sedangkan aku memesan dua kaleng Heinekken beserta segelas es batu. Kami mencari tempat duduk yang di pojok kedai.
Ada beberapa pemancing di pinggir kolam, di meja lain ada empat perempuan china yang sedang asyik mengobrol dengan campuran bahasa Inggris dan Mandarin. Suasana di tempat ini memang sangat tenang. Area pemancingan air laut ini ditata sedemikian baik, sehingga orang-orang yang datang merasa nyaman meski untuk sekedar nongkrong atau berniat untuk memancing.
Cerita pun berputar-putar antara kami. Mulanya dia bertanya, kamu suka menulis apa, karya-karya siapa yang aku suka, dan lain sebagainya. Sampai dia sempat berpesan, nanti kalau aku kembali ke Indonesia dan ke Singapura lagi, dia minta tolong dibawakan buku-buku karya Jalaluddin Rumi dan beberapa penyair Persia lainnya. Dia bilang, dia lebih suka membaca buku-buku berbahasa Melayu ketimbang bahasa Inggris. Aku pun mengiyakan.
Waktu terus bergerak, dan ceritapun semakin seru. Yang akhirnya obrolan kami malah bertema seputar ilmu tasawuf. Aku sempat menahan hati untuk bercerita soal ilmu agama kepada temanku ini, karena seringkali aku melirik kepada kaleng bir di atas mejaku. Tapi dia tak permasalahkan soal itu. Memang, aku minum bir bukan untuk mencari mabuk, biasanya aku minum dua sampai tiga botol untuk mencari kantuk dan kemudian pulang tidur. Aku tidak pernah mau cari masalah di luar, apalagi di negara orang. Tidak menceracau dan mengganggu orang lain. Karena di Singapura, jika kita membuat onar kemudian tertangkap, bisa jadi kita ditahan dalam kurungan penjara untuk beberapa hari, bahkan yang lebih parah jika kita tidak diizinkan untuk masuk apalagi tinggal di Singapura. Bisa berabe kalau terjadi semacam itu. Apalagi aku bekerja di perusahaan yang dimiliki oleh orang Singapura dan berlokasi di negara ini. Wah, jangan sampai terjadi deh…
Cerita pun kami akhiri sekitar pukul dua lewat. Obrolan seru berhenti untuk sementara waktu, mungkin lain kali akan kami sambung lagi. Aku pun besok sudah harus berangkat ke Thailand.
Mobil meluncur ke arah hotel tempat aku menginap.
Setelah sampai di depan hotel, temanku langsung pamit pulang.
Malam semakin larut. Mataku pun sudah mengantuk. Sempat aku merindukan seseorang. Seorang perempuan yang mencuri perhatianku. Argh, aku jadi rindu….