#Batam (24 Nov 2009)

Hari pertama perjalananku ke Batam, sebelum memulai semua aktifitas kembali. Hari pertama ini sengaja aku mampir ke Batam, sebelum melanjutkan ke Singapura. Ada beberapa hal yang ingin kulakukan di Batam; pergi ke tempat pijat langgananku, bertemu beberapa orang teman dan mempersiapkan diri sebelum berangkat ke lokasi kerja yang memakan waktu berbulan-bulan.

Aku tiba di Batam sekitar pukul empat sore. Setiba di bandara Hang Nadim, aku langsung telpon hotel yang pada waktu-waktu lalu sering kujadikan tempat menyendiri. Setelah memesan satu kamar hotel, aku langsung mencari taksi menuju hotel yang letaknya masih di seputaran daerah Nagoya.

Sepanjang perjalanan, ada beberapa kutemukan perubahan di kota ini. Beberapa mall setengah jadi, beberapa jalan yang sekarang sudah mulai macet, namun tetap asri dengan pepohonan hijau, rindang juga menyegarkan pandangan mata.

Sesampai di hotel, resepsionis dan pelayan menyambut aku tepat setelah aku membuka pintu masuk kaca yang tembus pandang dari dalam. Pelayan itu langsung meraih tas besar dari tanganku.

“Biar saya bawakan,” kata pelayan yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu.

“Ya, terima kasih.”

“Apa kabar, Bang? Sudah lama tak mampir kemari,” sapa resepsionis yang dari dulu aku tak pernah kenal siapa nama sebenarnya itu dari balik meja yang agak tinggi dari tempat duduknya.

“Baik. Iya nih, sudah lebih enam bulan aku tak mampir kesini, karena harus kerja di luar negeri, sekarang baru kesampaian mampir kesini lagi,” jawabku sambil melemparkan senyuman kepada mereka.

Setelah kubayar uang sewa kamar, aku bergegas naik ke lantai dua. Aku selalu dipilihkan sebuah kamar yang memiliki jendela. Mereka selalu ingat kesenanganku menatap pemandangan luar dari balik jendela. Ah, tak ada yang berubah di hotel ini. Pelayanan mereka yang aku suka, kamar yang agak luas dengan biaya sewa lebih murah dari hotel yang lain. Tempatnya juga strategis, tak jauh dari tempat-tempat perbelanjaan dan tempat hiburan.

Selesai mandi, aku telpon seorang teman untuk janji ketemu di sebuah food court. Dan temanku itu setuju untuk ketemu dan berjanji mengajak teman yang lain untuk ketemu.

“Tunggu saja aku disana sekitar jam delapan nanti malam. Aku mau massage dulu, setelah itu baru kita ketemu di Nagoya Food Court. Oke?” pesanku kepada teman itu.

“Ya, nanti aku telpon kamu kalau sudah ada disana,” jawabnya.

“Sampai ketemu,” balasku menutup pembicaraan dan mematikan telpon genggam.

Selesai massage, aku buru-buru ke Nagoya Food Court untuk ketemu kedua temanku itu. Mereka sudah hampir setengah jam berada disana, sementara aku baru saja selesai massage selama dua jam. Ya, tempat massage itu bagus, sudah jadi langgananku sejak beberapa bulan lalu. Nama tempatnya, Sport Massage. Ada beberapa cabang dibuka di daerah sekitar Nagoya. Selain tempatnya nyaman, pelayanannya baik dan para pekerja disitu ramah terhadap para pelanggan, tapi yang lebih penting bagiku adalah bagaimana aku bisa bugar setelah massage selama dua jam. Bayangkan saja, sudah beberapa orang yang memijat aku sewaktu aku masih di rumah, tapi hasilnya tidak senyaman dan sebugar saat massage disini. Entah mengapa…

Sesampai di Nagoya Food Court, beberapa SPG (Sales Promotion Girl) bir datang mendekatiku, menawarkan untuk membeli bir dagangan mereka. Tapi, aku masih belum mau memesan apapun. Selain aku baru duduk bersama teman-temanku, aku juga sudah punya kenalan sendiri untuk memesan makanan dan minuman. Mataku mencari-cari seseorang namun aku tidak juga menemukan. Sampai akhirnya, aku melihat seorang SPG langgananku, Virgie namanya. Dia agak bingung ketika kupanggil untuk datang ke mejaku.

“Wuih, kok rambutnya hilang?” teriaknya, diikuti pandangan orang-orang di meja sebelah.

“Sudah aku potong rambutku, potong habis. Nanti aku panjangkan lagi,” jawabku. “Pesan dua, yah!”

“Oke, sebentar saya ambilkan,” Virgie buru-buru ngeloyor pergi, tapi sebelum itu aku tarik tangannya.

“Eh, si Rini mana? Kok gak kelihatan?” tanyaku tentang seorang SPG lain yang pernah kukenal.

“Rini sudah berhenti. Katanya dia pulang ke Medan.”

“O gitu? Tinggal kamu aja yang masih betah disini ya?”

“Ya, namanya juga kerja. Saya pergi dulu ya, Bang.” Virgie pun pergi ke counter pemesanan.

Lantas, mataku pun mencari-cari seseorang yang lain. Aku lihat ada seorang perempuan china, dan coba memanggilnya. Antara kebingungan, perempuan itu pun coba mendatangi aku.

“Abang panggil saya?” tanyanya penasaran.

“Ya. Sudah lupa, ya?” aku balik bertanya sambil tersenyum.

“Siapa ya?” dia seakan benar-benar kebingungan.

“Ingat yang rambut gondrong?” tanyaku mengingatkan.

“Eh, Abang! Kok rambutnya dipotong? Sungguh, dari tadi saya kebingungan, siapa Abang kok senyum-senyum dari jauh. Rupanya Abang gondrong,” akhirnya diapun mengingatku.

“Aku pesan makanan yah, boleh pesan di Brothers kalau aku duduk di meja ini?” tanyaku. Karena biasanya, aku selalu duduk tepat di meja kasir Brothers, dan bukan di meja lain.

“Boleh, asal Abang yang panggil kami. Abang pesan apa?”

“Tipan Tofu dan ayam bawang putih goreng.”

“Oke, Abang tunggu sebentar ya, saya minta buatkan dulu pesanannya,”dia pun pergi dan aku lupa-lupa ingat namanya siapa, Tini atau…. Argh, aku selalu suka ingat wajah, tapi sering lupa nama!

Lewat pukul sepuluh malam, cerita pun usai. Selain besok aku harus berangkat ke Singapura, teman-temanku yang lain pun harus juga berangkat kerja pagi hari. Minuman di botol juga telah habis. Aku pun kembali ke hotel untuk beristirahat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.